Now (chapter 1)

Title : Now (chapter 1)

Author : cillayoon

Main Cast : Xi Luhan as Park Luhan

Oh Sehun as Park Sehun

Byun Baekhyun as Kim Baekhyun

KiM Jong-in as Jung Jong-in

Huang Zitao as Kim Tao

Support Cast : Do Kyungsoo as Lee Kyungsoo

Zhang Yi-xing as Park Yi-xing

Choi Minho as Choi Minho

Lee Taemin as Kang Taemin

keluarga Park

Tuan Jung

Tuan Kim

support cast akan bertambah seiring jalan cerita

Length : Chaptered

Genre : friendship, brothership

Disclaimer : semua cast milik Tuhan.

Author Note : author minta maaf kalo ada salah tulis atau alur ceritanya yang susah dimengerti. buat para readers, aku berharap banget akan comment kalian. thanks….

HAPPY READING

“eomma, jangan tinggalkan aku disini bersama appa, aku ikut kalian saja” namja kecil itu menarik-narik baju eommanya.

“mianhe luhan-ah, eomma sangat menyayangimu tapi eomma tidak bisa membawamu bersama kami”

“kenapa hanya aku yang tinggal disini? kenapa eomma hanya mengajak lay dan sehun?” mata luhan kini memerah bersiap-siap untuk menangis.

“ini sudah keputusan dari appa dan eomma” wanita paruh baya itu kini mulai mencoba melepaskan cengkaraman luhan di bajunya.

Hari ini Tuan park dan Nyonya Park resmi bercerai, mungkin mereka sudah tidak tahan satu sama lain, karena sebelum mereka bercerai setiap harinya di rumah pasti ada teriakan atau saling membentak satu sama lain bahkan lay, sehun, dan luhan sudah terbiasa dengan hal ini dan keputusan dari pengadilan tadi mengatakan bahwa Tuan Park hanya boleh membawa satu anak dari tiga anak mereka dan tuan Park memilih luhan untuk dibawa bersamanya, sedangkan sehun dan lay dibawa oleh Nyonya Park. Dan itu berarti luhan akan terpisah dengan sehun dan lay.

“pergilah, aku pasti akan menjaga luhan” Tuan Park menarik tangan luhan secara paksa

“changkaman!” luhan berlari kearah lay dan sehun “ini untuk kalian, jangan sampai hilang! arraseo!” luhan menyrahkan dua kalung berbandul kunci kepada lay dan sehun.

“ige mwoya!” pekik sehun saat kalung itu sudah berada di tangannya

“kalian memakai kuncinya dan aku akan memakai gemboknya, jadi kita akan selalu terikat” jelas luhan

“gomawo luhannie, aku sangat menyayangimu dan tidak akan pernah melupakanmu” lay sudah tidak bisa menahan airmatanya lagi dan langsung menhambur ke pelukan luhan, diikuti oleh sehun.

“chagi-ah kita harus pergi sekarang, kajja” tiba-tiba saja Nyonya Park menarik tangan sehun dan lay lalu langsung membawa mereka keluar dari pintu rumah megah itu.

“aku tidak akan melupakan kalia, berjanjilah suatu saat nanti kalian akan datang menjemputku” teriak luhan saat ketiganya sudah memblakanginya

“ne, aku berjanji” teriak lay.

setelah Nyonya Park pergi bersama lay dan sehun, kini hanya tinngal luhan dan appanya saja yang hidup di korea karena katanya Nyonya Park pergi dan akan menetap di Melbourne Australia. tiba-tiba saja tuan park menarik tangan luhan dan mengajaknya masuk ke mobil.

“mau kemana?” tanya luhan polos

“kita akan pindah ke seoul, dan appa minta lupakan masa lalumu luhan” terdengar seperti kata perintah bukan permohonan di telinga luhan

“wae appa?” wajah polosnya masih saja menghiasi muka luhan. tapi tuan park tidak menghiraukan pertanyaan luhan, mereka langsung pergi ke seoul.

————————————

“kita akan ke seoul malam ini” kata tuan kim pada ke dua anak laki-lakinya sambil memasukan baju ke koper besar.

“tapi bagaimana dengan eomma?” tanya Tao

“kita akan memakamkan eomma di seoul sesuai dengan permintaanya, dan akan tinggal disana” jelas tuan kim lagi.

baekhyun yang mendengar perbincangan tadi tidak mampu mengeluarkan suara, dia merasa sangat terpukul dengan kepergian eommanya 2 hari yang lalu, semua air mata itu ditahannya kuat-kuat supaya tidak keluar.

“Mianhe baekhyun-ah aku sudah membuatmu menangis lagi” ucap tao merasa bersalah karena dia yang mengingatkan baekhyun pada eomma mereka.

“Kwenchana” suaranya bergetar, dia benar-benar ingin menangis saat ini tapi airmatanya sudah dia habiskan kemarin.

“Ya sudah kajja, appa akan membantu kalian membereskan barang-barang kalian, yang tidak perlu jangan dibawa ya, tinggalkan saja disini” tuan kim menarik lengan anak-anaknya dan pergi ke kamar mereka.

“Apa kau mau bawa yang ini” tanya tao sambil memperlihatkan sebuah mainan masa kecil mereka pada baekhyun.

“Aniyo, tinggalkan saja disini” jawab baekhyun yang sedang memasukan semua bajunya bersama tuan kim, sedangkan tao bertugas untuk memilah-milah barang-barang mereka yang tidak berguna.

15 menit kemudian….

“Kajja, tidak ada yang ketinggalan kan?” Tanya tuan kim memerhatikan keadaan sekitar. “Tidak” jawab tao dan baekhyun serempak. Tuan kim kemudian menutup pintu rumah mereka dan ketinganya masuk ke dalam mobil menuju bandara.

Malam ini mereka pergi ke seoul korea, mencoba melupakan masa lalu bersama eomma dan mencoba untuk membuka lembaran baru dalam hidup mereka masing-masing.

“Aku masih tidak percaya kita kembali ke seoul lagi” ucap tao pada baekhyun yang duduk di sebelah bangku pesawatnya, kini mereka sudah ada dalam perjalanan.

“………” hening baekhyun tidak menjawab atau lebih tepatnya menanggapi omongan tao dia tidak ingin mencuri perhatian para penghuni pesawat dengan mata merahnya atau airmatanya.

“Berusahalah untuk tegar, ya!” Tao mengusap-ngusap pundak baekhyun

“Ne, aku akan mencoba hidup yang baru” jawab baekhyun.

“Kita akan pindah ke rumah baru, sekolah baru dan hidup yang baru, appa sudah menyiapkan semuanya untuk kita” jelas tao

“Sudahlah, aku ingin tidur, untuk sampai di korea kan membutuhkan waktu yang lama” baekhyun menurunkan bangkunya mengambil bantal dan selimut lalu menutup matanya.

Tao hanya diam melihat tingkah laku saudaranya ini, sebelum eomma mereka pergi meninggalkan mereka baekhyun adalah seorang yang penuh keceriaan, hangat dan banyak bicara tapi setelah eomma pergi semuanya berubah dia jadi dingin seperti bongkahan es besar.”apasemuanya akan terus seperti ini, aku berharap ada orang yang bisa mengubahmu bakhyun, mengembalikanmy menjadi yang dulu” ucap tao dalam hati.

——————————————————–

“Appa!!” Luhan melambai-lambaikan tangannya saat melihat appanya berada di sebrang jalan, tadi dia sempat hilang saat baru saja tiba di seoul dan hari mulai berubah jadi gelap sekarang. Yang ada di pikirannya sekarang adalah dia tidak tau arah jalan di kota seluas ini, dan dia harus tetap berada disisi appanya kalau tidak mau hilang. Kini eomma sehun dan lay sudah menjadi kenangan untuk luhan, appanya baru saja menyruhnya untuk memutuskan semua kontak mereka mulai dari email, nomor telpon dan apapun yang bisa membuat mereka terhubung. Sangat terlihat jelas kalau tuan park benar-benar ingin membuat lembar baru dalam kehidupannya dan luhan, dan itu benar-benar membuat luhan kecewa, dia bahkan merutuki dirinya sendiri bagaimana bisa appa memilihnya kenapa tidak dengan yang lain, dia tidak ingin sendiri tapi apa boleh buat semuanya sudah berjalan dan tak bisa terulang lagi.

“Chagi-ah sini!” Teriak tuan park di sebrang jalan

“Ne appa” luhan mulai berjalan , melangkahkan kakinya menatap jalan yang dia lalui sekarang namun tanpa dia sadari sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju kearahnya.

-Di dalam mobil-

“Jongin-ah diam!” Teriak tuan jung yang sedang menyetir, dari tadi jongin anaknya tidak bisa diam dan banyak bicara.

“Kalau bukan eomma yang menyuruhku ikut appa ke soeul, aku lebih memilih tinggal bersama eomma di bunsan, arraso!!” Jong-in melipat tangannya di dada dan memasang wajah cenberut.

“Appa tidak akan mengajakmu juga kalau bukan eomma yang minta, arraso!!” Tuan jung mengikuti cara bicara jongin yang marah, dari tadi mereka terus saja berdebat tanpa tema di mobil.

“Aaahhhh”

“Apamkamu lakukan!!! Kamu mau mati hah?” Untung saja tuan jung mengunci pintu mobilnya tadi kalau tidak sekarang jongin sudah terlempar keluar karena membuka pintu mobil saat mobil sedang melaju kencang.

“Appa, awas!!” Tuan jung yang tadinya melihat jongin dan memegang tanganya menoleh ke arah jalan, dan dia langsung mengerem mobilnya, baru saja sadar kalau tadi ada seorang namja kecil yang menyebrang jalan.

“Appa bagaimana ini? Apa dia mati?” Tanya jongin khawatir.

“Diam!! Appa akan melihatnya, kau tunggu disini sebentar!!” Tuan jung membuka pintu dan saat melihat keadaan namja kecil yang baru saja di tabraknya tadi, disana ada seorang namja paruh baya yang terlihat khawatir memegang telpon genggamnya, mungkin untuk menelpon ambulance.

“Maafkan aku tuan, aku tidak sengaja” tuan jung meminta maaf pada namja paruh baya itu, dia sudah bisa menebak kalau namja itu pasti mengenal anak kecil tadi.

“Aku akan memaafkanmu kalau dia masih hidup!” Cetusnya

-Rumah sakit soeul-

“Bagaimana keadaanya?” Tanya tuan park saat seorang dokter sudah keluar dari ugd.

“Keadaannya baik-baik saja, tapi sepertinya dia mengalami amnesia, kami baru akan tau bahwa itu permanen atau tidak saat dia sadar nanti” ujar dokter itu kemudian pergi.

“Tuan!” Tiba-tiba saja jongin menarik tangan tuan park, menhentikan langkahnya yang ingin melihat keadaan luhan sekarang.

“Ada apa?” Tanya tuan jung dingin, untung saja luhan masih hidup kalau tidak dia pastikan orang yang menabrak luhan tadi mati ditanganya sendiri.

“Aku minta maaf atas kejadian tadi, ini semua salahku dan aku akan menebusnya” ujar jongin. “Dengan apa? Dengan nyawamu?”

“Aku akan menjadi sahabatnya, aku akan menemaninya seumur hidupku tuan” ucap jongin polos, dia sudah memastikan jawabannya tadi berkali-kali dan inilah waktunya.

“Baiklah, aku pegang janjimu jung jongin” kata tuan park. Mereka tadi sempat berkenalan saat menunggu dokter memeriksa luhan.

“Iya, aku berjanji” terlihat seulas senyum menghiasi wajah jongin. Dia sangat merasa lega saat ini karena tuan park tidak jadi menuntut ayahnya.

“Chagi-ah, ,kwenchana?” Tanya tuan park saat luhan terlihat membuka matanya

“Oe, kwenchana” jawabnya “tapi siapa kalian” tanya luhan saat melihat dua orang namja paruh baya dan seorang namja kecil yang umrnya sama dengannya

“Ini appa”

“Tunggu!! Siapa aku, aku tidak mengingat namaku sendiri sekarang” raut wajah panik menghiasi wajah luhan.

“Kamu Luhan….. Park Luhan” tegas tuan jung lagi.

“Lalu siapa mereka?” Telunjuk luhan mengarah pada dua orang yang berdiri berdampingan itu.

“Apa kau melupakanku luhan, aku ini kim jongin” kata jongin berusaha seakrab mungkin, menutupi bahwa sesungguhnya dia tidak mengenal luhan di masa lalunya.

“Mianhe”

“Sebaiknya kau istirahat sekarang, appa akan menceritakan semuanya besok”

Di melbourne australia ternyata sehun bahkan mengalami kejadian yang sama dengan luhan. Takdir sudah menentukan mereka untuk melupakan sejenak masa lalu mereka.

Nyonya Park dan Lay menutupi semuanya. Saat sehun bertanya siapa dirinya, kenapa dia bisa disini, dan mana appanya. Nyonya park menjawab semuanya denga kebohongan.

Nyonya park bercerita bahwa appa mereka sudah meninggal dan mereka pindah ke sini karena nyonya park harus bekerja, mengaku bahwa tidak ada lagi saudara di korea, menutupi identitas luhan dan tuan park seakan mereka tidak pernah ada di kehidupan sehun. Lay yang menyaksikan eommanya berbohong itu hanya bisa diam, dia harus menurut apa kata eommanya sebagai seorang anak yang baik.

Back to luhan and jongin

Keesokan harinya luhan diperbolehkan pulang, dokter bilang bahwa keadaanya sudah stabil tapi entah sampai kapan dia baru bisa mengingat masa lalunya lagi, itu masih tidak bisa diprediksi.

“Anyyeong! Kau masih ingat aku kan, aku kim jongin tapi biasanya teman-temanku termasukmu memanggilku kai” kata jongin mencoba membuat masa lalu buatan untuk luhan.

“Mianhe, aku sempat lupa padamu kai-ah”

“Kwenchana, kita akan memulainya lagi dari awal” ucap kai optimis.

“Ne, tapi-” luhan menoleh kearah appanya yang kini sedang berbicara dengan appa kai dibelakang mereka sambil membawa tas berisi baju-baju luhan “apa kau tau tentang eommaku atau keluargaku yang lain?” Bisik luhan supaya appanya tidak bisa mendengar pertanyaan yang baru saja dia lontarkan pada kai.

“Wae? Kenapa kau bertanya padaku bukannya appamu sudah menjelaskannya tadi”

“Aku tidak yakin, saat appa menjelaskannya tadi sepertinya ada yang dia sembunyikan” bisiknya lagi

“Itu benar, eommamu sudah bercerai dengan appamu saat kamu masih kecil dan kau adalah anak tunggal” jelas jongin mengulangi penjelasan tuan park kepada luhan tadi

“Oe, baiklah karena kau yang menjelaskan aku jadi tidak merasa ragu lagi sekarang”

“Ne” jawab kai tapi rasa khawatir kalau suatu saat nanti semua kebohongan dan masa lalu buatan yang kai buat bersama tuan park terbongkar dan luhan akan membencinya itu masih saja menghatuinya sampai sekarang.

————————————————–

Tbc…

Buat readers yang udah baca comment yah, karena ini wordpress baru jadi aku butuh banget comment supaya tau ada yang baca ff aku apa nggak. Untuk silent readers, berubahlah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s